"Dedicated for every brokenhearted around the world"

All of my life
Where have you been
I wonder if I'll ever see you again
And if that day comes
I know we could win
I wonder if I'll ever see you again
Jika ada rasa sakit yang melebihi rasa sakit apapun di dunia ini, inilah rasa itu. Bagaimana aku sanggup jika lagu itu terus didendangkan di supermarket ini?
Tanganku bergetar, pikiranku menerawang. Saat aku dan dia duduk di rerumputan dan keremangan malam, terdengar sayup-sayup suara lagu itu dari dalam mobilnya. Lagu Lenny Kravitz favorite-nya. Ia menyentuh tanganku dengan lembut dan satu tangannya lagi menyentuh pipiku, matanya menatap mataku. Kami saling mencintai, itu cukup terlihat dari tatapan mata kami. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, itulah ciuman pertamaku. Merasakan.
Tak sadar aku telah menjatuhkan minuman kaleng yang sedang kupegang dan air mataku menetes..
Cepat-cepat kuhapus air mata itu.
All of my life
Where have you been
I wonder if I'll ever see you again?
Cukup sudah!
Aku meninggalkan keranjangku dan berlari sekuat tenaga menuju keluar supermarket itu. Terus dan terus..aku tak menghentikan lariku menuju mobilku.
Tanganku bergetar ketika hendak memasukkan kunci mobil. Kuncinya tidak mau masuk! Ayo terbukalah?
Air mata sudah mulai berbayang lagi dipelupuk mataku. Akhirnya pintu mobil terbuka juga. Kusandarkan tubuhku di jok mobil, menutup mataku hingga air mataku terdorong.
Kutarik nafas dalam-dalam.
Sampai kapan aku akan begini? Sampai kapan?
Aku bernafas tapi aku sudah mati
Aku punya hati tapi tak lagi merasakan
Aku berjalan tapi tidak pernah sampai
Aku tidak lagi sama,
Aku sudah mati.
***
Sudah 1 bulan aku mengurung diriku terus di dalam kamar, aku tidak mau bersosialisasi lagi dengan siapapun. Aku merasa tidak ada seorangpun yang bisa mengerti posisiku, takkan pernah ada yang bisa merasakan apa yang ada di dalamku.
Tapi aku tahu kalau aku terus mengurung diri di dalam sini aku bisa gila. GILA!
Setidaknya aku harus melakukan sesuatu untuk diriku sendiri. Aku tidak bisa terus mengharapkan dirinya mau kembali denganku. Kurasa semua sudah jelas, tapi mengapa hatiku tidak mau menerima kejelasan itu? Aku mengutuk hatiku yang bebal.
Oh, Tuhan mengapa aku terlalu mencintainya?Andaikan Kau membuat hati manusia tidak serumit dan sedalam ini, aku memang hamba-Mu yang paling tidak tahu diri, tidak bisa mengurus hatinya sendiri..lemah, aku lemah, Tuhan..
Jadi apa yang akan aku lakukan sekarang? menutup semua tirai dan menangisinya terus menerus tidak membantuku sama sekali.
Aku mau ke perpustakaan, membaca sesuatu yang mungkin bisa menghilangkan pikiran sakit itu sesaat saja, hanya sesaat saja kumohon...
***
Dan disinilah semuanya bermula, andai aku tahu bahwa hidup tidak bisa lebih rumit lagi dari hal ini, mungkin aku sebaiknya tidak pernah pergi ke perpustakaan itu.
Tapi aku pergi.
Aku suka sastra. Jadi kupilih buku favorite-ku,
Shakespeare, Romeo and Juliet.
Setidaknya mereka mati dalam keadaan masih saling mencintai, sampai di nirwana tidak perlu merasa sakit lagi seperti diriku.
Andai aku juga langsung mati saja sebelum berpisah dengannya...
Aku duduk di sebuah meja di pojokkan, kubuka lembaran pertama itu. Tak lama kemudian aku terhanyut oleh cerita itu, aku sudah tahu jalan ceritanya akan seperti apa, tapi aku tetap terkesima.
? Romeo, Romeo! wherefore art thou Romeo?
Deny thy father and refuse thy name;
Or, if thou wilt not, be but sworn my love,
And I'll no longer be a Capulet.
Setelah membaca frase itu aku terhenyak. Seharusnya ia berani seperti Romeo! Menentang keluarganya demi Juliet-nya. Rasa panas mengaliri hatiku, naik terus hingga keatas ke kepalaku.
Sakit.
Perih.
Hancur.
Dan mungkin sekarang sudah mulai bernanah.
permisi, mbak. Mbak menangis?
Pertanyaan atau penyataan.
Kuusap air mataku. Kulihat ada seorang pria jangkung berdiri di depan mejaku sambil memegang buku.
Matanya!
Aku seperti terhipnotis ketika melihat matanya dan jantungku berdebar cukup keras.
"Oh, gak apa-apa...cuma terharu sama buku ini..padahal sudah dibaca berkali-kali... mulutku tiba-tiba terus berbicara kepada orang asing ini.
Pria itu tersenyum, boleh saya duduk disini?"
"Silakan."
"Dalam sekali, ya makna ceritanya buat kamu?"
"
Too deep..." hampir saja aku menangis lagi.
"Richard Romeo?
Aku terbelalak mendengar namanya. Ia hanya tersenyum sambil menyodorkan tangannya.
?utri?
***
Seperti kukatakan tadi, disitulah semua bermula?
Richard, kini menjadi Romeoku. Ia sangat memperhatikan dan mencintaiku. Hingga 2 bulan sudah ia berhasil menaklukan semua keraguanku. Ia tahu semuanya tentangku dan tentang-nya yang sudah berlalu itu?
Ia sudah melihatku menangisi masa lalu, ia sudah melihatku termenung bagai mayat hidup, ia sudah melihatku menangis dan menangis lagi.
Romeo.
Begitu tulus mencintai wanita rapuh sepertiku. Ketika kutanyakan padanya, "mengapa kamu mau mencintai wanita yang masih terbelenggu sepertiku? Kamu tidak akan bahagia, percayalah."
"Mengapa kamu yang begitu yakin, Put? Apa matamu bisa menembus hatiku? Ataukah kamu bisa membaca ramalan nasibku?"jawabnya sambil tersenyum, kutatap matanya. Itulah..matanya...ya, Tuhan, berdosakah aku?
Aku menggelengkan kepalaku.
"Mataku hanya bisa melihat sejauh permukaan tubuh dan aku juga bukan peramal, aku suka matamu.." kataku tak tahan lagi mengatakan itu.
"Sudah kamu katakan berulang-ulang, sayang"
"Matamu begitu damai...aku..aku bisa terus menatapmu berjam-jam tanpa harus berkedip kalau kamu mau." Godaku sambil terus menatap matanya.
"Aku tidak mau, matamu akan kering, kamu akan sakit mata dan aku tentunya akan salah tingkah kamu lihatin terus." Senyumnya membuat mata itu sedikit menyipit.
"Aku cinta kamu, Romeo."masih tak melepaskan tatapan mataku padanya.
"Aku juga cinta kamu, Putri."
Ia memelukku erat. Maafkan aku Romeo...
***
Malam ini masih kutatap fotonya.
Kamu membuatku gila, Jo..mengapa setelah kamu tinggalkan, aku masih saja mencari-carimu? Tidakkah kamu tahu setiap malam mimpiku adalah mengejar bayang-bayangmu? Atau mengingat semua kenangan kita namun ternyata angin menghapus semua ingatanku. Saat itulah aku harus terbangun dari mimpiku, karena aku tiba-tiba ketakutan tidak bisa menerima semua kenyataan itu. Pahit, Jo.
Tapi ingatkah kamu saat kamu dan aku berbaring di kamar ini saling berpelukan, kamu menyanyikan
Lullaby hingga aku terlelap baru kamu pergi menyelinap. Kamu sering memanjakanku seperti itu.
Saat aku mencubiti pipimu ketika kamu mengatakan aku terlalu cerewet.
Saat kamu menyisiri rambutku hingga mataku terpejam merasakan belaian sisir ditanganmu.
Saat kamu tertawa ketika aku mengeluarkan latahku.
Saat kamu berpura-pura mengatakan
Fetuccini Hot spice buatanku enak padahal wajahmu sudah memerah kepedasan.
Saat kita menciptakan nama-nama bayi kita di masa depan, kelak kita menikah dan memiliki sebuah keluarga bahagia.
Saat kamu menciumku dengan mesra di setiap mengantarku pulang.
Saat kamu mencuri-curi ciuman di sela-sela aku berbicara serius kepadamu.
Saat kamu memberiku seikat bunga dan mengajakku berdansa dengan lagu ini, kita berdendang bersama sambil berpelukan dan tersenyum?
You know I can? smile without you?
I can? smile without you
I can? laugh and I can? sleep
I don? even talk to people I mean
And l feel sad when you’re sad
I feel glad when you’re glad
You must know what I’m going through
I just can’t smile without you?
Ah, Jo..kamu tahu aku meneteskan mata saat aku menyanyikan lagu ini kembali sebab itulah yang kurasakan sejak kehilangan dirimu.
Saat kamu tak sanggup lagi memilikiku karena ternyata jodohmu sudah ditentukan orang tuamu, saat kamu mengatakan tidak mungkin melawan kehendak orang tuamu dan ingatkah kamu saat aku menangis, menjerit-jerit memukuli tubuhmu, aku tidak bisa menerima semua itu. Kamu hanya pasrah berusaha memelukku sambil terus memanggil-manggil namaku. Tapi itu tidak membantuku, kamu tau itu?
Kamu jahat Jo, kalau tahu kita akan begini mengapa kamu ciptakan hubungan yang begitu indah? Mengapa kamu membawaku ke awang-awang dan menghempaskanku begitu dalam di bawah sana. Sakit, Jo, sakit.
Apa kamu merasakan hal yang sama denganku atau kamu sudah bahagia disana?
Dalam hatiku aku bersyukur, Jo, kamu tidak berada di kota yang sama denganku lagi. Kalau tidak, mungkin aku akan datang ke tempatmu dan sembah sujud dihadapan orang tuamu, mengemis agar anaknya diberikan untukku. Atau aku akan menghancurkan pesta pernikahanmu dengan tanganku sendiri. Aku sanggup, Jo!
Aku ini memang lemah namun di dalam jiwaku ada tenaga yang begitu besar untuk terus berusaha memilikimu. Dan ini membuatku takut.
Jo,
I wonder if I'll ever see you again
Pintu kamarku tiba-tiba terbuka.
“Put? Kenapa gelap begini?” lampu kamarku tiba-tiba dinyalakan oleh Romeo.
Aku kaget sekali, buru-buru kuselipkan foto Jo dibalik selimut. Terlambat! mata Romeo sudah melihat semua gerakanku. Aku menatapnya dengan wajah penuh air mata yang tadi kudedikasikan untuk seorang Jo dari masa lalu.
”Putri?”
Aku menatapnya waspada.
”Putri kamu menangis lagi? Kamu sudah janji gak akan nangis lagi kan?” ia dengan gesit berjalan ke arah kasurku, menarik selimut itu dan merampas foto Jo dariku.
Pandangan Romeo ke foto itu cukup jelas menyiratkan bahwa ia terluka. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya menangis lagi. Aku telah melukai Romeo padahal aku telah berjanji untuk tidak berlarut-larut dengan masalah ini, tapi aku berbohong.
Aku berdiri dari kasurku.
“Sampai kapan, Put? sampai kapan?” Romeo menguncang-guncang tubuhku.
Air mataku mengalir lagi.
Kemudian Romeo mengangkat foto itu di depan mataku dan merobek-robeknya.
“JANGAN!” aku berusaha merebutnya tapi ia tidak membiarkanku, wajahnya terlihat makin terluka dengan sikapku ini.
Jo-ku sudah dirobek-robeknya, sakit hati ini tapi ini juga tidak adil untuknya.
”Kita sampai disini saja, Rom.” suaraku bergetar menahan emosi yang bercampur aduk ini.
Romeo tampak sangat terkejut.
“Kenapa tidak kamu katakan sejak dulu?” Kata-kata itu begitu lirih.
Aku membungkam. Aku tidak pantas lagi untuknya. Aku tidak berperasaan.
“Kenapa tidak pernah kamu bilang bahwa melupakannya adalah tidak mungkin?!”
“Kenapa semua yang sudah aku beri sama kamu itu tidak bisa juga membuat kamu menyadarinya bahwa kamu masih punya orang lain yang bisa memberikan cinta itu selamanya..SELAMANYA! Kamu tahu kan aku cinta mati sama kamu? Kamu tahu, Put, aku tidak akan pernah memperlakukanmu seperti Jo itu! Kamu bisa melihat semua perhatianku padamu tapi hatimu buta! Kenapa, Put!?”
”Karena matamu!”
Jo bingung dengan jawabanku.
“Karena matamu, Rom. Matamu..matamu adalah mata Jo…” Aku menangis terisak-isak sambil menatap matanya dibalik genangan air mata ini.
Romeo tampak lebih terpukul lagi.
Matanya memang mirip mata Jo, itulah yang membuatku luluh terhadapnya, walau kuakui selama ini ia memperlakukanku begitu hormat, begitu lembut, begitu gentleman, ia tahu aku masih terjebak masa lalu ketika memulai hubungan serius dengannya, tapi Romeo begitu tangguh, ia berani menerimaku apa adanya. Pria lain mungkin takkan tahan. Tiga bulan lewat, aku berjanji tidak akan menangis lagi ataupun mengingat-ngingat masa laluku lagi, tapi kini aku kalah lagi oleh bayang-bayang Jo. Terkadang aku ingin memutuskan hubungan dengan Romeo, tapi mata Romeo mirip sekali dengan Jo, aku tak sanggup. Aku pantas diperlakukan seperti sampah oleh Romeo saat ini dan aku siap.
”Maka dari itu aku minta putus, aku gak layak lagi buatmu, Rom, aku bukan Juliet, selama ini aku berpura-pura menjadi Juliet karena aku berharap agar aku bisa mati sepertinya dan tidak usah merasakan sakit ini lagi. Aku gak sanggup lagi dihantui masa laluku, aku sudah mencoba menghentikannya, tapi mereka terus datang seperti pernah kukatakan padamu, Rom?
It’s too deep, you can’t see it, but I still feel it.”
“
And it will kill you someday, but, look at me! I dont want you to die.”
“Percuma Rom, tinggalkan saja aku! Tinggalkan! aku sudah hancur, aku tidak akan kembali seperti dulu lagi, kalau aku ini guci, maka guci itu sebenarnya sudah hancur berkeping-keping, kamu mencoba menyatukannya kembali, tapi tetap guci itu tidak indah lagi, kamu akan bosan dan melupakannya dengan cepat. Carilah guci yang masih utuh, Rom..”
Tapi Romeo malah berlutut didepanku, memelukku, kepalanya disandarkan keperutku.
“Kalau gucci itu sudah retak, aku akan menghancurkannya dan membentuknya lagi menjadi gucci yang baru. Aku akan menghancurkan bayang-bayang Jo di hatimu dan kamu akan merasakan cinta yang baru denganku.” Ia mengatakan hal itu seolah-olah dirinya sudah bertekad takkan menyerah dariku.
Romeo, oh, Romeo, kamu memang Romeo yang sesungguhnya seperti di dalam buku
Shakespeare, kamu tidak mundur selangkah-pun, tidak seperti Jo.
Kulihat Romeo meneteskan air matanya.
”Putri Aswanti, cintaku terlalu dalam, lebih dalam dari lukamu, kamu tidak percaya? Kalau tidak, mengapa aku belum juga menyerah terhadapmu saat ini? Aku tahu kamu bisa merasakan cintaku, Put, karena ia selalu mengalirimu seperti saat ini juga”
Air mata Romeo merembes kebajuku.
”Kamu tidak mau menyerah, Romeo?” suaraku bergetar.
“Romeo juga mati ketika tahu Juliet-nya mati.”
“Jadi kalau aku mati, kamu juga mati?”
Romeo bangkit dari berlututnya, tangannya memegang kedua pipiku.
“Klise. Biarlah kamu mati namun aku yang akan menghidupkanmu kembali menjadi Putriku…
Putriku seorang”
Dan bibir lembut Romeo menyentuh bibirku, terasa hangat. Aku ingin mengalir bersama cinta Romeo yang berjanji akan menghidupkanku kembali.
No more ’I wonder if I'll ever see you again’…
-THE END-